Wednesday, March 26, 2008

Standarisasi sebuah Event Enduro/Adventure

Sudahkan ada standar untuk event Enduro atau Motoadventure? Jawabnya jelas.... belum. Kalaupun ada logo IMI di dalamnya bukan berarti bahwa regulasi IMI sudah ada untuk event ini, tetap saja belum ada. Regulasi IMI sesuai dengan buku biru masih mengatur tentang "balapan" sepeda motor, khususnya kalau untuk jalur tanah adalah Grasstrack dan Motocross. Bagaimana dengan Adventure (istilah yang banyak digunakan sekarang ini). Jelas, kegiatan Adventure dengan Sepeda Motor tidak identik dengan Grasstrack atau Motocross.

Sebagai sebuah sharing dari pengalaman, baik adalam penyelenggaraan Grasstrack maupun Adventure, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh penyelenggara kegiatan Adventure sepeda motor itu sendiri, diantaranya adalah:

1. LINTASAN
Lintasan seperti apa yang diharapkan ada pada kegiatan Motoadventure. Lintasan yang dimaksud disini bisa menjadi 2 (dua) aspek, yaitu panjang lintasan dan lebar lintasan. Panjang lintasan mungkin bervariasi tergantung dari lama waktu dan perkiraan peserta. One day trip, mungkin dirancang diantara kisaran 30 km, yang dibagi atas 3 bagian lintasan. Bagian pertama adalah lintasan setelah start. Lintasan ini adalah lintasan yang digunakan untuk memecah peserta. Oleh karena itu, lintasan ini bisa berupa lintasan aspal, batu dengan perkiraan panjang maksimal 7 km dengan lebar maksimal 5 m. Lintasan ini diharapkan dapat memecah peserta sehingga peserta tidak akan bertumpuk yang menyebabkan timbulnya kemacetan pada saat peserta memasuki jalur offroad (single line/track). Pemberian handicap atau halangan seperti beberapa batang pohon juga dapat menjadi salah satu alternatif untuk memecah peserta.
Lintasan kedua adalah lintasan Offroad, yang merupakan gabungan antara single track dan double track. Lintasan ini merupakan jalur offroad yang jelas akan diberikan kepada peserta.
Lintasan ketiga adalah lintasan sebelum finish. Sifatnya hampir sama dengan lintasan setelah start, akan tetapi lintasan sebelum finish adalah lintasan aspal yang merupakan lintasan untuk menurunkan emosi peserta sampai menuju garis finish.

Pembedaan lintasan ini diharapkan akan dapat membuat adanya penyeimbangan untuk menghindari terjadinya kemacetan sebagai akibat banyaknya peserta. Penyeimbangan ini juga dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada peserta selama melakukan kegiatan offroad sepeda motor.

2. KEAMANAN

Masalah keamanan kerap menjadi permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan Adventure sepeda motor. Atas dasar hal tersebut, maka pada setiap event adventure sepeda motor mungkin sebaiknya didampingi oleh 2 (dua) buah mobil ambulans yang dibagi di 2 (dua) area sebagai unit evakuasi. Selain itu, untuk mendukung keamanan maka panitia pelaksana juga sebaiknya memberikan rambu-rambu yang sedikit banyak dapat menunjukkan wilayah-wilayah yang rawan kecelakaan. Sebuah contoh yang dilakukan pada event FIM 6 days enduro, malah mampu menunjukkan adanya pohon-pohon yang berdiri di tepi lintasan dan diperkirakan berbahaya bagi offroader dilapis dengan karung yang berisikan jerami untuk menghindari terjadinya kecelakaan fatal.

3. HANDICAP

Handicap yang seperti apa yang sebaiknya tersedia dalam sebuah kegiatan adventure sepeda motor. Sebagai sebuah upaya untuk tidak merusak hutan, maka handicap dapat berupa turunan tajam, tanjakan tajam maupun sungai atau lumpur. Selain itu jalur yang licin juga merupakan handicap lain yang harus tersedia. Handicap ini juga bisa ditambah dengan adanya batang pohon, akar yang menonjol serta batu yang akan mampu menggali kemampuan peserta dalam melakukan kegiatan adventure dengan sepeda motor.

4. JALUR EVAKUASI

Jalur evakuasi adalah jalur yang dapat dipergunakan baik untuk peserta maupun panitia untuk melakukan pertolongan atau juga pada saat terjadi kemacetan (khususnya pada lintasan single track). Jalur ini merupakan jalur tikus. Panitia pelaksana pada akhirnya juga diharuskan untuk membuka tutup jalur ini untuk menghindari adanya kemacetan yang berpotensi pada keterlambatan peserta memasuki finish.

5. MARSHALL

Marshall selama ini lebih sering dilakukan oleh masyarakat yang dilalui. Terlepas dari sebuah proses yang telah terbentuk dalam waktu yang relatif panjang, pelaksana juga harus menyediakan tenaga pengawas yang tugasnya mengawasi perilaku peserta serta penduduk untuk menjaga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebagai contoh, kerap penduduk menyiramkan air ke lintasan untuk membuat lintasan menjadi licin dan berbahaya. Untuk menjaga agar tidak kelicinan lintasan tidak sampai pada taraf membahayakan, maka dibutuhkan pengawas yang berfungsi menahan keinginan penduduk tanpa menimbulkan konflik.

6. PELAKSANA LAPANGAN

Pelaksana lapangan harus terdiri dari sekurang-kurangnya LEADER (PIONEER), MEKANIK, SWEEPER. Masing-masing mempunyai tugas tersendiri dan diberi pakaian tersendiri untuk lebih mudah dikenali.

7. HADIAH

Perlukah sebuah hadiah? Pada akhirnya hadiah hanya merupakan sebuah fungsi pemasaran untuk menarik jumlah peserta. Tapi bagi offroader sejati, mungkin bukan hadiah yang dicari, akan tetapi kepuasan pada saat bisa menikmati dan menaklukkan jalur.

Mungkin ini sedikit upaya sharing, agar pelaksanaan Event Adventure Offroad bukan menjadi event yang membosankan yang pada akhirnya kerap macet, bahkan pada beberapa kasus menimbulkan ketidakpuasan bagi para peserta.

Tuesday, February 19, 2008

Oray Tapa Enduro dan Time Trial

Oray Tapa Enduro and Time Trial yang digelar oleh PJB tanggal 16 - 17 Februari ini ternyata miskin pengikut. Sosialisasi yang tidak terjadi sangat disayangkan, mengingat event yang dilaksanakan sebenarnya memiliki ide yang baik serta lintasan yang menarik. Minimnya peserta sudah kelihatan pada hari Sabtu, acara time trial, yang ternyata tidak ada peserta, hanya ada teman-teman dari Kape'U. Akhirnya acara Sabtu dibatalkan dan diganti menjadi hari Minggu, yaitu langsung pada event Enduro. Jumlah peserta pun ternyata hanya mencapai angka 12 orang....



Akhirnya disepakati, acara tetap dilaksanakan. Peserta dilepas per empat orang, dan dipilih 2 posisi teratas yaitu 1 dan 2 untuk maju ke final.


Lintasan yang menarik, cukup panjang, licin setelah diguyur hujan, serta dilengkapi dengan handicap yang lumayan berat, dari turunan, tanjakan yang licin serta kubangan menjadi santapan bagi peserta.


Akhirnya, hasil race 1, Kape'U tidak dapat meloloskan unggulannya, Virgin, karena mogok. Setelah diperiksa oleh mekanik, Black dan Eko "Boss" ternyata kabel busi lepas. Race ke dua berhasil meloloskan Stones dan karena kesalahan panitia, akhirnya Bawono juga ikut lolos ke final.

Pada race final, 3 putaran, lap pertama Stones didepan, sementara Bawono ada di keempat. Hingga akhir putaran ke dua, Bawono menyusul, ke tiga, dan pada lap terakhir, Bawono akhirnya menyodok ke posisi ke dua. Total Kape'U menempatkan Stones dan Daru berturut-turut di posisi satu dan dua.... bravo

Virgin kemudian mencoba ikut pada kelompok penasaran. Start tertinggal, karena kran bensin tertutup, akhirnya dengan semangat juang tinggi, berhasil finish di urutan ke 2 dibelakang Fahmi (TRABAS).

Gelaran yang lumayan, walau mungkin untuk event berikutnya perlu dipromosikan secara lebih baik.

Friday, January 11, 2008

My Bike


TS 125 thn 1993
Lagi parkir di garasi.

Cover lampu KTM
Fender Depan Yamaha YZ
Fender Belakang KTM
Shock Depan KTM 43
Stang Renthal Fatbar (Thailand)
Ban Depan Kenda Washougal 80/100 - 21
Ban Belakang Kenda Carlsbad 100/100 - 18
Jok Diperkecil, gaya Solo
Tangki Bensin standard, mundur 2 cm
Rem depan cakram







Tromol Belakang Yamaha DT
Swing Arm masih standard, diperpanjang 3 cm










Karburator Keihin 28, biar nafas ngga tekor ditambah saringan bensin kaca. Warna kuning adalah tutup boks udara, biar air ngga terlalu bebas masuk






Pengatur oli 2 Tak, diadopsi dari sepeda gunung







Shock Belakang WR Gas
Cover Knalpor Fiber (custom)

Tempat Oli Samping Besi (custom) merangkap penahan lumpur dan ditempatkan di bawah jok














































Wednesday, November 28, 2007

Rancabuaya... 24 - 25 Nov 2007

Rancabuaya... mantap. 23 motor tanpa dukungan kru darat. Berangkat dari Bandung, kumpul di Antapani jam 06.00. Biasa, setelah urusan bensin (antri... kayak bebek) dan pembagian ransum. Rombongan berangkat melalui Jalan Soekarno Hatta, Cibaduyut, Soreang, Ciwidey. Sampai di Ciwidey, motor Loncin Didi mejus.. (mogok) pengencang rantai keteng jebol. Setelah istirahat 30' menit sambil menunggu perbaikan, rombongan sirkus jalan lagi masuk melalui Rancabolang. Di jalan menuju perkebunan, kembali ada masalah dengan motor Wawan BB (bandar beras), Anus (Ndeso). Karburatornya ternyata juga menyimpan sedimen... lumpur. Akhirnya mampet. Setelah proses pembersihan sedimen tak punya nilai uang ini, lanjut... baru berjalan sekitar 2 km, ketemu rombongan tengah, yang sedang membuka ransum sambil ngoprek bekas motor (bukan motor bekas) XL yang kuncinya rusak, korslet. Motor si Anus belum beres juga, masih hidup mati. Anehnya, kalau dia berdiri, motor nya lancar, tapi pada saat duduk, motor mberebet... Setelah di cek... ternyata kabel di bawah jok korslet... dasar ODONG - ODONG.


Setelah semua beres, perjalanan dilanjut sambil mengejar kelompok depan. Ngga lama ketemu juga. Ternyata sama, mereka juga sambil menunggu buka ransum, makan siang.

Masuk jalan batu menuju LONDOK.. lumayan buat yang kaki-kaki motor sudah di modifikasi. Bisa geber, sementara kaki motor standaran apa boleh buat... USAHA....

Sampai di LONDOK sekitar jam 14.00. Setelah isi bensin dan istirahat, perjalanan dilanjutkan offroad melalui Hutan Gunung Patuha menuju Cihalimun. Jalur yang dua hari tidak terkena hujan masih cukup basah. Nge rel dan licin.... lumayan lah buat latihan jatuh....

Keluar Cihalimun pertama si Haseum... setelah jatuh bangun 5 kali... biasa gegeberan, diikuti Virgin, Sony, Dogel, dan seterusnya. Karena pengen di foto, Sony akhirnya di foto dalam posisi ban motor berada di atas, jatuh masuk ke selokan karena angin palsu....

Setelah semuanya berkumpul.... perjalanan dilanjutkan ke arah Rancabuaya melalui jalur kiri. Lumayan ada olah raganya... turun ke sungai berbatu, terus naik belak-belok. Korban pertama adalah motor Leader, si Andi "Ucu" yang jatuh sekitar 6 - 7 meter ke jurang / sawah. Berikutnya Wawan Beas.

Keluar dari hutan masuk ke jalan besar antara Rancabuaya dengan Cijayanti sekitar jam 18.00. Virgin dan Didi menghilang, karena melalui jalur lama yang lebih panjang. Akhirnya diputuskan untuk menginap di Cijayanti, agar proses kembali ke Bandung menjadi lebih dekat.

Tanggal 25, perjalanan pulang dilakukan dari Cijayanti, Cidaun, Naringgul, belok kanan, ke arah Ciwidey. Sebelum pulang, rombongan sempat foto-foto sebentar di pantai Cijayanti. Motor si Kapten hampir terbenam gara-gara pengen gaya waktu di foto. Tiba-tiba ombak besar datang dan menenggelamkan motor sampai setinggi jok. Setelah menguras air laut dari mesin dan mengganti oli, perjalanan pulang dilanjutkan dan rombongan tiba di Bandung sekitar pukul 15.30 setelah sempat makan siang di Ciwidey.

Catatan Perjalanan : Cijayanti menyediakan fasilitas penginapan dengan harga antara Rp. 100.000 sampai Rp. 150.000,- per malam. Makan malam relatif sulit ditemukan. Ada tapi pada suasana dan kondisi yang tidak nyaman. Satu-satunya jenis ikan yang tersedia hanya ikan layur.

Monday, September 24, 2007

KBU... Jakarta Ribut, Bandung Masa Bodo, Kabupaten Bandung tidak peduli

Di saat di Kompas ribut-ribut mengenai kerusakan di KBU (Kawasan Bandung Utara), mungkin orang Bandung sendiri khususnya Pemkot Bandung berpikir.... "GITU SAJA KOQ RIBUT". Seberapa jauh masyakat Bandung peduli dengan kerusakan daerah tempat tinggal mereka sendiri.

Pada saat pindah ke kota Bandung tahun 1985, Bandung masih merupakan "kota kembang". Artinya, udaranya masih nyaman, bahkan, setiap pagi pada saat berjalan kaki ke sekolah melewati kampus ITB, di dalam lingkungan ITB masih berkabut. Udara masih dingin. Tidak lama, pada tahun 1988, kebetulan tempat kuliah terletak di Dago Atas, setiap jadwal kuliah kam 7, mahasiswa yang hadir sebelum jam 7 biasanya menyempatkan diri untuk berjemur, moyan, kata dalam bahasa Sunda, untuk menghangatkan diri.

Akhir tahun 1999, daerah yang dingin di kota Bandung sudah mulai bergeser. Sudah harus lebih tinggi, khususnya di daerah Dago Pakar, Setiabudhi ke arah Lembang. Artinya suhu udara rata-rata sudah mulai meningkat. Kenapa?

Ternyata, sederhana. Ada beberapa sebab yang meningkatkan suhu udara di kota Bandung. Yang pertama adalah meningkatnya kondisi perekonomian yang ditunjukkan dengan meningkatnya pembangunan fisik baik yang digunakan untuk kepentingan perdagangan, umum maupun meningkatnya jumlah perumahan. Akibatnya adalah berkurangnya jumlah lahan tutupan hutan maupun lahan hijau di kota Bandung.

Meningkatnya jumlah penduduk kota Bandung pada akhirnya menggeser posisi perumahan ke wilayah tetangga, yaitu wilayah Kabupaten Bandung, termasuk dengan meningkatnya pembangunan perumahan di kawasan Bandung Selatan dan Bandung Utara.

Peningkatan ini kemudian tidak didukung oleh masalah kedua yaitu pengawasan yang memadai. Kondisi KBU yang sebagian besar berada di kawasan Kabupaten Bandung, dengan ibukota kabupaten adalah Soreang merupakan daerah "merdeka", atau dengan kata lain bebas dari pengawasan. Hal ini disebabkan posisi Kabupaten Bandung yang berada di sekeliling kota Bandung. Posisi ibukota kota Bandung sendiri berada di daerah Selatan Tatar Bandung, dengan kata lain, setiap mau berurusan dengan wilayah KBU, pejabat kabupaten harus melalui kota Bandung untuk mencapai wilayah tersebut, demikian pula sebaliknya.

Pembangunan di Kawasan Bandung Utara (KBU) terjadi dengan pembangunan perumahan yang dilakukan secara besar-besaran diantaranya adalah "The Untouchables" Resort Dago Pakar, Kawasan Bukit Pakar Timur, Setiabudi Regency dan Punclut. Resort Dago Pakar dibangun dengan mengorbankan ratusan ribu pohon serta beberapa desa dan ratusan pemukiman penduduk. Yang sekarang diributkan kemudian adalah Punclut.

Lantas, bagaimana dengan yang lain? Salah satu perumahan di Kawasan Bukit Pakar Timur contohnya, pengembang sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pembatasan bangunan. Akhirnya bangunan yang seharusnya dibangun dengan persentase 30% dari luas tanah malah berkembang menjadi sebaliknya, luas bangunan 70%, sementara halaman hanya 30%.

Kemudian banyaknya lahan yang digunakan untuk perladangan. Pembukaan areal semak belukar menjadi ladang serta pemanfaatan tanah milik menjadi ladang atau kebun juga berpengaruh dalam menciptakan kondisi kerusakan di KBU itu sendiri.

Intinya... besar atau kecil, developer ataupun masyarakat ikut menciptakan kondisi kerusakan di KBU. Pendekatan struktural dan hukum serta pelaksanaan pengawasan harus ditegakkan. Akan tetapi mungkin? Tidak. Sebabnya, ada beberapa teori yang mendukung ketidakmampuan pejabat untuk melakukan penegakan hukum di KBU, diantaranya adalah:
Pertama, pemerintah Kabupaten Bandung tidak memiliki SDM yang memadai untuk melakukan pengawasan terhadap pembangunan di KBU,
Kedua, pemerintah Kabupaten Bandung tidak memiliki skema penataan ruang wilayah khususnya Kawasan Bandung Utara,
Ketiga, "backing" yang berada di Kawasan Resort Dago Pakar, yang diberi discount besar-besaran oleh Pengembang Resort Dago Pakar. Tidak hanya pejabat pemerintah Kabupaten, akan tetapi juga Pejabat Pemerintah Propinsi termasuk Aparat, bahkan beberapa pejabat di Jakarta.
Keempat, hubungan antara Istana Group dengan pemerintah kota Bandung serta dengan pemerintah Propinsi yang menguntungkan pihak pengembangan Setiabudhi Regency.

Punclut... wah, yang pasti sudah berdiri sebuah Internasional School.

Intinya, kalau pun terjadi sebuah kehancuran ekologis pada lingkungan Bandung, hal ini bukan saja disebabkan oleh developer, tetapi juga oleh masyarakat.

Gas Pol Asshole

Buka puasa bersama.... sama yang puasa dan juga yang tidak puasa. Pokoknya offroad ringan, terus buka. Tempat buka sudah diputuskan di tempat si Hantu Laut... Iwan, pemilik Soerabi Enhaii.

Setelah nunggu di warung Nur dari jam 3 sore, mulai para penjahat berdatangan. Ada Lulu "Peujit", Didi "Stones", Anus "Ndeso", Ari "Bungsu" dan si Igor. Tadinya masih nunggu Kapten dan Yana "Bajing", tapi ternyata dua-duanya "PEHUL" PEOT HULU.


Jam menunjukkan jam 4 sore, dan jalan. Rute yang dipilih adalah Warung Nur, naik ke arah Pasir Pogor, kiri, masuk ke Batu Nyusun, Pakar, Tahura, simpang Warung Daweung, Batu Loceng, Cibodas, Maribaya, Lembang, Jl. Setiabudhi.

Awalnya sih nyantai... tapi pas sampe ke Pakar, ketemu rombongan Marmott. Kondisi trek yang berdebu akhirnya membuat pilihan mau di depan, atau makan debu di belakang. Punten.... akhirnya, mendingan nyalib... paling depan saja, posisi paling enak.


Eh... si Stones tidak mau ketinggalan. Malah nyolok-nyolok dari belakang. Untung motor yang dipake lagi ngeberebet, jadi tidak bisa nyalib. Makan tuh debu. Jadinya ya itu tadi "gas pol asshole". Yang lain.... semakin ketinggalan.


Keluar di Batu Loceng, Cibodas jam 5 sore. Cuma 1 jam offroad. Setelah haha hihi sebentar, langsung ke si Iwan Surabi. Makan malam dan pulang. Rencana minggu depan offroad lagi dan buka puasa di Agus Palintang.

Wednesday, September 12, 2007

Catatan TRABAS MERDEKA V










Trabas Merdeka V, dengan rute Bandung - Kawali - Pangandaran pada tanggal 10, 11 Agustus 2007 yang lalu sudah selesai dilaksanakan. Terlepas dari adanya beberapa kelemahan dalam pelaksanaan, hampir semua peserta dan panitia merasa puas. Sambutan masyarakat di dalam perjalanan, relatif baik. Perijinan maupun jadwal pelaksanaan yang boleh dikatakan sesuai pada akhirnya terbayar sudah.... everything on track....







Jumlah peserta yang mencapai angka 362 orang yang berasal dari Bandung dan Jawa Barat, Bali, Jawa Tengah, Jawa Taimur, Lampung dan Kalimantan Selatan merupakan angka peserta terbanyak dari sejak event Trabas Merdeka dilakukan 5 (lima) tahun yang lalu.








Tapi tetap aja ada yang kurang, yang mungkin harus diperbaiki pada hubungan antara pelaksana kegiatan dengan sponsor, pengambilan keputusan serta persiapan, yang memang dirasa kurang panjang.








Jalur yang sangat menantang, yang menyajikan Speed Offroad, Adventure, melalui kawasan Country Road, Hutan perawan serta ladang menjadikan jalur yang disajikan sangat-sangat komplit. Akan tetapi muncul catatan panjang dari sebuah kenikmatan offroad itu sendiri. Apa... Ya itu... banyaknya peserta yang celaka. Kecelakaan dari jatuh dan sobek merupakan sebuah kecelakaan yang biasa, jumlah yang mengalami pun cukup banyak. Kecelakaan yang sifatnya parah ada beberapa kejadian diantaranya adalah dislokasi bahu seperti yang dialami oleh Haji Denny (Bandung) dan Monty (Bali/Australia).








Bagaimana dengan kecelakaan terberat? Kecelakaan terberat terjadi dan menimpa Bapak Adang peserta yang berasal dari Bandung. Sepatu Thor yang dikenakan ditembus oleh tuas persneling yang terdapat di bawah blok mesin. Akhirnya..... kaki tembus... butuh puluhan jahitan