Wednesday, November 28, 2007

Rancabuaya... 24 - 25 Nov 2007

Rancabuaya... mantap. 23 motor tanpa dukungan kru darat. Berangkat dari Bandung, kumpul di Antapani jam 06.00. Biasa, setelah urusan bensin (antri... kayak bebek) dan pembagian ransum. Rombongan berangkat melalui Jalan Soekarno Hatta, Cibaduyut, Soreang, Ciwidey. Sampai di Ciwidey, motor Loncin Didi mejus.. (mogok) pengencang rantai keteng jebol. Setelah istirahat 30' menit sambil menunggu perbaikan, rombongan sirkus jalan lagi masuk melalui Rancabolang. Di jalan menuju perkebunan, kembali ada masalah dengan motor Wawan BB (bandar beras), Anus (Ndeso). Karburatornya ternyata juga menyimpan sedimen... lumpur. Akhirnya mampet. Setelah proses pembersihan sedimen tak punya nilai uang ini, lanjut... baru berjalan sekitar 2 km, ketemu rombongan tengah, yang sedang membuka ransum sambil ngoprek bekas motor (bukan motor bekas) XL yang kuncinya rusak, korslet. Motor si Anus belum beres juga, masih hidup mati. Anehnya, kalau dia berdiri, motor nya lancar, tapi pada saat duduk, motor mberebet... Setelah di cek... ternyata kabel di bawah jok korslet... dasar ODONG - ODONG.


Setelah semua beres, perjalanan dilanjut sambil mengejar kelompok depan. Ngga lama ketemu juga. Ternyata sama, mereka juga sambil menunggu buka ransum, makan siang.

Masuk jalan batu menuju LONDOK.. lumayan buat yang kaki-kaki motor sudah di modifikasi. Bisa geber, sementara kaki motor standaran apa boleh buat... USAHA....

Sampai di LONDOK sekitar jam 14.00. Setelah isi bensin dan istirahat, perjalanan dilanjutkan offroad melalui Hutan Gunung Patuha menuju Cihalimun. Jalur yang dua hari tidak terkena hujan masih cukup basah. Nge rel dan licin.... lumayan lah buat latihan jatuh....

Keluar Cihalimun pertama si Haseum... setelah jatuh bangun 5 kali... biasa gegeberan, diikuti Virgin, Sony, Dogel, dan seterusnya. Karena pengen di foto, Sony akhirnya di foto dalam posisi ban motor berada di atas, jatuh masuk ke selokan karena angin palsu....

Setelah semuanya berkumpul.... perjalanan dilanjutkan ke arah Rancabuaya melalui jalur kiri. Lumayan ada olah raganya... turun ke sungai berbatu, terus naik belak-belok. Korban pertama adalah motor Leader, si Andi "Ucu" yang jatuh sekitar 6 - 7 meter ke jurang / sawah. Berikutnya Wawan Beas.

Keluar dari hutan masuk ke jalan besar antara Rancabuaya dengan Cijayanti sekitar jam 18.00. Virgin dan Didi menghilang, karena melalui jalur lama yang lebih panjang. Akhirnya diputuskan untuk menginap di Cijayanti, agar proses kembali ke Bandung menjadi lebih dekat.

Tanggal 25, perjalanan pulang dilakukan dari Cijayanti, Cidaun, Naringgul, belok kanan, ke arah Ciwidey. Sebelum pulang, rombongan sempat foto-foto sebentar di pantai Cijayanti. Motor si Kapten hampir terbenam gara-gara pengen gaya waktu di foto. Tiba-tiba ombak besar datang dan menenggelamkan motor sampai setinggi jok. Setelah menguras air laut dari mesin dan mengganti oli, perjalanan pulang dilanjutkan dan rombongan tiba di Bandung sekitar pukul 15.30 setelah sempat makan siang di Ciwidey.

Catatan Perjalanan : Cijayanti menyediakan fasilitas penginapan dengan harga antara Rp. 100.000 sampai Rp. 150.000,- per malam. Makan malam relatif sulit ditemukan. Ada tapi pada suasana dan kondisi yang tidak nyaman. Satu-satunya jenis ikan yang tersedia hanya ikan layur.

Monday, September 24, 2007

KBU... Jakarta Ribut, Bandung Masa Bodo, Kabupaten Bandung tidak peduli

Di saat di Kompas ribut-ribut mengenai kerusakan di KBU (Kawasan Bandung Utara), mungkin orang Bandung sendiri khususnya Pemkot Bandung berpikir.... "GITU SAJA KOQ RIBUT". Seberapa jauh masyakat Bandung peduli dengan kerusakan daerah tempat tinggal mereka sendiri.

Pada saat pindah ke kota Bandung tahun 1985, Bandung masih merupakan "kota kembang". Artinya, udaranya masih nyaman, bahkan, setiap pagi pada saat berjalan kaki ke sekolah melewati kampus ITB, di dalam lingkungan ITB masih berkabut. Udara masih dingin. Tidak lama, pada tahun 1988, kebetulan tempat kuliah terletak di Dago Atas, setiap jadwal kuliah kam 7, mahasiswa yang hadir sebelum jam 7 biasanya menyempatkan diri untuk berjemur, moyan, kata dalam bahasa Sunda, untuk menghangatkan diri.

Akhir tahun 1999, daerah yang dingin di kota Bandung sudah mulai bergeser. Sudah harus lebih tinggi, khususnya di daerah Dago Pakar, Setiabudhi ke arah Lembang. Artinya suhu udara rata-rata sudah mulai meningkat. Kenapa?

Ternyata, sederhana. Ada beberapa sebab yang meningkatkan suhu udara di kota Bandung. Yang pertama adalah meningkatnya kondisi perekonomian yang ditunjukkan dengan meningkatnya pembangunan fisik baik yang digunakan untuk kepentingan perdagangan, umum maupun meningkatnya jumlah perumahan. Akibatnya adalah berkurangnya jumlah lahan tutupan hutan maupun lahan hijau di kota Bandung.

Meningkatnya jumlah penduduk kota Bandung pada akhirnya menggeser posisi perumahan ke wilayah tetangga, yaitu wilayah Kabupaten Bandung, termasuk dengan meningkatnya pembangunan perumahan di kawasan Bandung Selatan dan Bandung Utara.

Peningkatan ini kemudian tidak didukung oleh masalah kedua yaitu pengawasan yang memadai. Kondisi KBU yang sebagian besar berada di kawasan Kabupaten Bandung, dengan ibukota kabupaten adalah Soreang merupakan daerah "merdeka", atau dengan kata lain bebas dari pengawasan. Hal ini disebabkan posisi Kabupaten Bandung yang berada di sekeliling kota Bandung. Posisi ibukota kota Bandung sendiri berada di daerah Selatan Tatar Bandung, dengan kata lain, setiap mau berurusan dengan wilayah KBU, pejabat kabupaten harus melalui kota Bandung untuk mencapai wilayah tersebut, demikian pula sebaliknya.

Pembangunan di Kawasan Bandung Utara (KBU) terjadi dengan pembangunan perumahan yang dilakukan secara besar-besaran diantaranya adalah "The Untouchables" Resort Dago Pakar, Kawasan Bukit Pakar Timur, Setiabudi Regency dan Punclut. Resort Dago Pakar dibangun dengan mengorbankan ratusan ribu pohon serta beberapa desa dan ratusan pemukiman penduduk. Yang sekarang diributkan kemudian adalah Punclut.

Lantas, bagaimana dengan yang lain? Salah satu perumahan di Kawasan Bukit Pakar Timur contohnya, pengembang sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pembatasan bangunan. Akhirnya bangunan yang seharusnya dibangun dengan persentase 30% dari luas tanah malah berkembang menjadi sebaliknya, luas bangunan 70%, sementara halaman hanya 30%.

Kemudian banyaknya lahan yang digunakan untuk perladangan. Pembukaan areal semak belukar menjadi ladang serta pemanfaatan tanah milik menjadi ladang atau kebun juga berpengaruh dalam menciptakan kondisi kerusakan di KBU itu sendiri.

Intinya... besar atau kecil, developer ataupun masyarakat ikut menciptakan kondisi kerusakan di KBU. Pendekatan struktural dan hukum serta pelaksanaan pengawasan harus ditegakkan. Akan tetapi mungkin? Tidak. Sebabnya, ada beberapa teori yang mendukung ketidakmampuan pejabat untuk melakukan penegakan hukum di KBU, diantaranya adalah:
Pertama, pemerintah Kabupaten Bandung tidak memiliki SDM yang memadai untuk melakukan pengawasan terhadap pembangunan di KBU,
Kedua, pemerintah Kabupaten Bandung tidak memiliki skema penataan ruang wilayah khususnya Kawasan Bandung Utara,
Ketiga, "backing" yang berada di Kawasan Resort Dago Pakar, yang diberi discount besar-besaran oleh Pengembang Resort Dago Pakar. Tidak hanya pejabat pemerintah Kabupaten, akan tetapi juga Pejabat Pemerintah Propinsi termasuk Aparat, bahkan beberapa pejabat di Jakarta.
Keempat, hubungan antara Istana Group dengan pemerintah kota Bandung serta dengan pemerintah Propinsi yang menguntungkan pihak pengembangan Setiabudhi Regency.

Punclut... wah, yang pasti sudah berdiri sebuah Internasional School.

Intinya, kalau pun terjadi sebuah kehancuran ekologis pada lingkungan Bandung, hal ini bukan saja disebabkan oleh developer, tetapi juga oleh masyarakat.

Gas Pol Asshole

Buka puasa bersama.... sama yang puasa dan juga yang tidak puasa. Pokoknya offroad ringan, terus buka. Tempat buka sudah diputuskan di tempat si Hantu Laut... Iwan, pemilik Soerabi Enhaii.

Setelah nunggu di warung Nur dari jam 3 sore, mulai para penjahat berdatangan. Ada Lulu "Peujit", Didi "Stones", Anus "Ndeso", Ari "Bungsu" dan si Igor. Tadinya masih nunggu Kapten dan Yana "Bajing", tapi ternyata dua-duanya "PEHUL" PEOT HULU.


Jam menunjukkan jam 4 sore, dan jalan. Rute yang dipilih adalah Warung Nur, naik ke arah Pasir Pogor, kiri, masuk ke Batu Nyusun, Pakar, Tahura, simpang Warung Daweung, Batu Loceng, Cibodas, Maribaya, Lembang, Jl. Setiabudhi.

Awalnya sih nyantai... tapi pas sampe ke Pakar, ketemu rombongan Marmott. Kondisi trek yang berdebu akhirnya membuat pilihan mau di depan, atau makan debu di belakang. Punten.... akhirnya, mendingan nyalib... paling depan saja, posisi paling enak.


Eh... si Stones tidak mau ketinggalan. Malah nyolok-nyolok dari belakang. Untung motor yang dipake lagi ngeberebet, jadi tidak bisa nyalib. Makan tuh debu. Jadinya ya itu tadi "gas pol asshole". Yang lain.... semakin ketinggalan.


Keluar di Batu Loceng, Cibodas jam 5 sore. Cuma 1 jam offroad. Setelah haha hihi sebentar, langsung ke si Iwan Surabi. Makan malam dan pulang. Rencana minggu depan offroad lagi dan buka puasa di Agus Palintang.

Wednesday, September 12, 2007

Catatan TRABAS MERDEKA V










Trabas Merdeka V, dengan rute Bandung - Kawali - Pangandaran pada tanggal 10, 11 Agustus 2007 yang lalu sudah selesai dilaksanakan. Terlepas dari adanya beberapa kelemahan dalam pelaksanaan, hampir semua peserta dan panitia merasa puas. Sambutan masyarakat di dalam perjalanan, relatif baik. Perijinan maupun jadwal pelaksanaan yang boleh dikatakan sesuai pada akhirnya terbayar sudah.... everything on track....







Jumlah peserta yang mencapai angka 362 orang yang berasal dari Bandung dan Jawa Barat, Bali, Jawa Tengah, Jawa Taimur, Lampung dan Kalimantan Selatan merupakan angka peserta terbanyak dari sejak event Trabas Merdeka dilakukan 5 (lima) tahun yang lalu.








Tapi tetap aja ada yang kurang, yang mungkin harus diperbaiki pada hubungan antara pelaksana kegiatan dengan sponsor, pengambilan keputusan serta persiapan, yang memang dirasa kurang panjang.








Jalur yang sangat menantang, yang menyajikan Speed Offroad, Adventure, melalui kawasan Country Road, Hutan perawan serta ladang menjadikan jalur yang disajikan sangat-sangat komplit. Akan tetapi muncul catatan panjang dari sebuah kenikmatan offroad itu sendiri. Apa... Ya itu... banyaknya peserta yang celaka. Kecelakaan dari jatuh dan sobek merupakan sebuah kecelakaan yang biasa, jumlah yang mengalami pun cukup banyak. Kecelakaan yang sifatnya parah ada beberapa kejadian diantaranya adalah dislokasi bahu seperti yang dialami oleh Haji Denny (Bandung) dan Monty (Bali/Australia).








Bagaimana dengan kecelakaan terberat? Kecelakaan terberat terjadi dan menimpa Bapak Adang peserta yang berasal dari Bandung. Sepatu Thor yang dikenakan ditembus oleh tuas persneling yang terdapat di bawah blok mesin. Akhirnya..... kaki tembus... butuh puluhan jahitan

Thursday, August 2, 2007

Catatan Bhayangkara Brantas Adventure Offroad

Event yang cukup menarik. Mengingat teman-teman Branta's akan ikut membantu pada pelaksanaan TRABAS MERDEKA 5, maka Trabas mengirimkan utusan 5 orang untuk mengikuti Bhayangkara Brantas Adventure Offroad tanggal 28 Juli kemarin. Anton (Ketua Harian), Denny Ceuyah (Ka. Bid), Wawan BB (Bandar "Beas" Beras), Daru dan saya. Kami berangkat dari sekretariat jam 21 malam dengan menggunakan 2 mobil. Setelah makan di Saung Asep Strawberry di daerah Nagreg, perjalanan dilanjutkan dan tiba di Villa yang telah disediakan oleh teman-teman Brantas, di daerah Ciilat.


Setelah istirahat dan sarapan, maka kami pun pada jam 8.00 pagi melanjutkan perjalanan ke Banjar untuk mengikuti start dari Polres Banjar. Start yang diperkirakan jam 9 pagi, ternyata terlambat, dan digeser ke jam 10. Karena masih ada waktu, saya nyari bengkel dulu buat benerin rem depan yang ngeplos. Terlambat start sekitar 1 jam 10 menit, karena kerusakan rem lumayan parah. Jam 11, saya dan Daru menyusul ke garis start. Setelah mendapat petunjuk arah, kami pun geber.... Gas pol.... mengejar peserta yang lain. Serasa dipestakan, jalur sudah keburu sepi, jadi bebas ngga macet. Setelah lebih kurang setengah jam ngebut, akhirnya ketemu dengan rombongan paling belakang, susul terus, sampai akhirnya ketemu dengan tim dari Trabas yang sedang istirahat makan siang.


Jalur lumayan, walaupun kering, tapi variasinya lumayan banyak. Ada rawa lumpur, bukit tanpa jalur turunan maupun tanjakan yang cukup menantang.


Kami pun finish bersamaan sekitar jam 14.30. Jalur relatif pendek, dihitung dengan menggunakan GPS, panjang jalur sekitar 34,2 km dengan average time moving sekitar 2 jam. Yang lama apanya... istirahatnya.


Monday, June 25, 2007

Jatiluhur TRACK and LOUD

Jatiluhur.. ini dia. Belum pernah soalnya... Setelah sibuk urusan kendaraan angkut dan siapa saja yang ikut, akhirnya Kape'U si Hijau Kuning berangkat dengan 12 orang peserta ditambah 3 orang Kru Darat serta menggunakan 4 mobil bak terbuka. Tim berangkat dari Bandung pukul 22.00 dan tiba di Purwakarta sekitar pukul 24.00. Istirahat sambil ngobrol, dibarengi dan panasnya udara Purwakarta. Akhirnya tidur pun susah. Walaupun malam itu hujan, hawa Purwakarta kelihatan tidak terlalu bersahabat dengan orang Bandung, panas.

Jam 5 subuh, kami bangun dan mulai beres-beres. Mandi, menurunkan motor, mengecek motor dan kemudian sekitar pukul 07.30 berangkat ke tempat start di kawasan Objek Wisata Jatiluhur. Setelah sekitar 20 menit perjalanan, rombongan kuning hijau tiba di Jatiluhur, mendaftar dan mengecek ulang motor. Ternyata jumlah peserta tidak terlalu banyak, diperkirakan hanya sekitar 400 peserta (itupun kalau datang dan start semua).

Setelah bersiap di garis start, kami pun start tidak bersamaan. Pada saat bersiap-siap, panitia kemudian memotong persis di tengah-tengah kelompok Kape'U. Akhirnya rencana semula yang ingin tetap berkelompok menjadi terpecah dua.

Perjalanan berlangsung mulus, hingga tanjakan pertama. Macet.... dibarengi dengan panasnya udara Purwakarta serta masih ditambah dengan asap dari knalpot motor 2 TAK. Tanjakan yang licin, yang sebelumnya memiliki jalur untuk satu motor beberapa saat setelah start dipastikan akan menyebabkan kemacetan. Dan benar saja, lumayan tertahan sekitar 20 menit di jalur. Selepas jalur tesebut, relatif perjalanan lancar. Jalur yang licin, ditambah dengan lumpur diselingi dengan tanjakan dan turunan yang masih pada taraf normal hingga pos I dapat dilalui dengan lancar.

Hingga Pos Emergency, sebelum POS I, kelompok Kape'U sudah terpencar menjadi beberapa kelompok. Cahyadi tidak kelihatan, karena ternyata sibuk mengejar-ngejar LEADER. Daru, Anus dan Didi juga mengikuti sedikit di belakang Cahyadi. Kedel mendapat musibah, dari mulai rantai lepas hingga busi yang tertutup solasi. Ilo mejus.... belum sampai Pos I sudah megap-megap, kepanasan. Setelah semuanya kumpul, gas lagi.. Kolonel duluan, diikuti oleh Kedel, Ari, Igor. Aku masih menunggu Ilo dan Eko, maklum ya itu tadi... sudah megap-megap.

Setelah keduanya muncul dan istirahat sejenak, kami pun menyusul teman-teman yang sudah jalan duluan di depan. Setelah melalui jalan desa yang cukup lumayan enak untuk nge "gas" kami pun kembali diharapkan pada trek offroad yang basah dengan tanah lempung. Motor Honda XL Kedel, mogok lagi pada saat memasuki jalan setapak yang digenangi air. Setelah didorong oleh Igor, motor nyala, kami pun mencoba menyusul Eko dan Ilo yang sudah didepan.

Kesusul... pasti.. tidak jauh dari tempat Kedel mogok, jalur menanjak yang berlumpur lengket. Ilo kayaknya salah ngambil jalur, ha..ha..ha Nyungsep. Udah panas, cape, nyungsep... di lumpur.

Igor sudah diatas, Ari sedang berjuang, Eko dan Kedel menunggu sebagai Sweeper. Aku lewat tanpa hambatan, dan ngacir... langsung ke depan. Setelah melalui sungai yang berlumpur yang harus dibantu oleh warga, serta beberapa tanjakan dan turunan yang cukup lumayan, termasuk POS I, aku ketemu dengan Kolonel. Lagi buka baju, kepanasan. Kami pun istirahat di bawah pohon bambu. Busett.. baru sekali ini offroad panasnya seperti ini. Tidak hanya panas, angin pun pelit abis....

Ngga lama, kami pun jalan lagi. Baru beberapa ratus meter berjalan dihadapkan pada lintasan yang lumayan ekstreem, walaupun tidak ekstreem banget, turunan ke sungai. Ternyata Daru, Anus, Didi ada di sungai. Lagi nunggu, dan motornya Didi sempat mogok. Tidak lama, setelah membersihkan tanah lumpur yang tertinggal di swingarm sedikit mencuci muka di air yang hangat...sakin panasnya, kami pun jalan lagi. Tiba di desa Cisarua, istirahat dan minum. Kebetulan ada warung yang cukup lengkap, termasuk ada es batu. Sueger rek...
Tidak lama, Igor, Eko, Kedel dan Ari muncul. Ilo mejus... orangnya, bukan motornya, dan memilih jalur alternatif dari POS I ke finish.

Kami pun melanjutkan perjalanan sambil foto-foto menjelang POS II, di bawah bendungan Jatiluhur. Setalah makan di POS II, kami pun jalan menuju finish. Jalur sudah tidak ada masalah, besar lumayan buat buka gas abis-abisan.

Secara umum, perjalanan menyenangkan. Disisi lain, door prize ada yang nyangkut, walaupun cuma Daru yang mendapat helm, Ari dapat ban depan Excella dan Didi dapat ban dalam. Lumayan.
Jalur Oke punya, panitia, penunjuk jalan dan semuanya OKE... yang tidak Oke cuma hawa panasnya. Selain itu, pada saat pembagian Doorprize juga ada sedikit keramaian. Sebenarnya munculnya dari para BONTY HUNTER, yang ikut Offroad mengejar hadiah... Mungkin ini yang harus dirubah.. offroad ya offroad, jangan sekedar mencari hadiah...

Monday, April 9, 2007

Mal's Linud 330 Adventure Offroad


Mals dan Linud bikin Adventure Offroad Sabtu tanggal 7 April 2007 kemarin. Lumayan rame, ada sekitar 1700 peserta. Melihat banyaknya peserta, maka Kape'U memutuskan untuk start pertama. Kape'U ada 16 peserta, semuanya dengan seragam kuning hijau, warna kebangsaan Kape'U. Kumpul di Antapani sekitar jam 6, dan kemudian berangkat menuju Cicalengka, tempat start dilaksanakan di Linud 330.


Setelah semua administrasi beres, kami pun menuju start. Start pertama dilakukan jam 9.00. Langsung geber... Kedel dari Kape'U nyodok ke depan. Emang yang rada-rada "debleng" disuruh ke depan, paling tidak finish pertama, buat bawa bendera. Lainnya, biasa ada yang tercecer ada yang mejus ada yang balik lagi.


Rute lumayan menarik. Start dari Linud 330 Cicalengka, langsung menuju ke arah Nagrek. Persis setelah rel kereta api, peserta diarahkan ke sebelah kiri, masuk jalan desa. kondisi jalan masih menarik, relatif besar dan bagus (aspal). Masih bisa geber, kira-kira sekitar 1,5 km. Setelah itu baru masuk jalan setapak, berbatu dan licin. Disini, peserta mulai tercecer. Rombongan terdepan, si Kedel sudah ngga kelihatan. Saya masih sempat ketemu beberapa teman termasuk menunggu Patrick yang ban belakangnya belum dikempeskan. Setelah itu, gas lagi. Licin sih... tapi daripada ketinggalan, paling tidak asal tidak jungkir balik lah.


Setelah beberapa saat di jalan batu, sambutan pertama muncul di tanjakan. Licin, macet karena banyaknya peserta. Jalur sudah mulai terobrak-abrik. Jatuh juga akhirnya karena jalan yang menanjak dan licin. Karena nafsu, gas dibuka, sambil berusaha tetap seimbang. yang terjadi bukan motor ke depan, tapi malah berputar 145 derajat, dan hilang keseimbangan....


Setelah itu, masih lumayan, jalan batu setapak bercampur dengan jalan tanah. Kecepatan masih bisa dikembangkan, jadi bisa melalui beberapa motor yang ada di depan. Saya jalan sendiri selama kira-kira 30 menit, sampai akhirnya ketemu Kapten yang mendampingi Ari. Gas..gas... hajar... maklum Ari masih baru, dan kecepatannya masih 5 km/jam.... SBTDL (Sebatang Dulu) ah sebentar di persimpangan sambil menunggu Patrick, Eko dan Pak Huis.. Ketemu, saya pun nge gas lagi, pol.. nyusul beberapa peserta yang tadinya sudah lewat. Sedikit jauh kelihatan kaos Kuning Hijau, ternyata si Monok... eh... jatuh lagi. Kesusul.. tapi masih dibantu. Setelah itu, gelap.. si Monok ketinggalan. Ngga jauh dari situ, jalur macet lagi. Ada tanjakan yang licin, yang membuat peserta menumpuk. Kelihatan ada Kaos Hijau Kuning Kapten dan Ari. Melihat panjangnya antrean, saya pun lihat kiri kanan. Ada jalan setapak sejajar dengan jalur yang macet. Coba ah... masuk aja ke Jalur setapak itu... nanjak terus keatas sampai ke saung... udah itu ngga ada jalan. Pas mau kembali lagi, ternyata peserta lain juga mengikuti. Akhirnya ya sudah, kagok... potong kompas ke kanan, melalui kebun jagung penduduk.... Pikiran pertama yang melintas adalah, dimarahin oleh penduduk nih... Ternyata benar... baru masuh kira-kira 25 meter ke kebun jagung sudah ada yang mencegat... akhirnya setelah dijelaskan dan kemudian dijanjikan bahwa jagungnya akan dibeli, penduduk tersebut pun kemudian membantu membuka jalan..... raib deh Rp. 100.000,- untuk mengganti kebun jagung.


Tidak jauh dari sana, ketemu tanjakan seribu. Maklum banyak yang harus ditarik ke atas oleh warga dan bayar Rp. 1000,- Ketemu lagi sama Kapten dan Pak Huis... Akhirnya bareng di tanjakan. dari tanjakan tersebut, kita masih disodori turunan dan tanjakan berbentuk V yang kemudian diikuti dengan tanjakan panjang ke arah hutan pinus. Setelah beberapa saat di jalan datar, ketemu lagi turunan yang jalurnya kerap diguyur oleh warga. Buset dah... licin, lumpur. Pokoknya mantap. Sampai dibawah, ketemu perempatan. Dari kejauhan koq ada beberapa orang dengan pakaian Kuning Hijau, ternyata sudah ada Didi "Stones", Yanto "Kolonel" dan Lulu sedang istirahat, kesusul juga nih. Mereka bertiga jalan duluan, saya dan Kapten masih menunggu Pak Huis. Ngobrol dan SBTDL....


Sambil bicara dengan salah satu warga yang kebetulan ada disana, serta ada teman offroader yang membawa kameraman, ternyata jalan sebelah kiri merupakan jalan pintas menuju Cimulu. jalur asli ke depan, atau terus, lumayan masih diputar-putar. Kami pun bergerak lagi bertiga menuju ke depan. Setelah jalan agak lumayan jauh, tiba-tiba pada saat ada persimpangan, saya dan Kapten dihadapkan pada jalan cagak. Ke kiri kelihatan sudah macet, ke kanan lurus, lowong, cuma tidak ada bekas ban. Biasa.... males antri, akhirnya jalur yang dipilih adalah yang lurus, tidak macet, terserah munculnya dimana, gimana nanti.


Benar juga, tidak lama, kami pun sudah keluar ke Kawasan Taman Buru Gunung Kareumbi. Ternyata jalur ke kiri adalah jalur sesat, dibawa masuk ke sungai... ekstrim deh.... Agak nyesel juga ngga ngerasain jalur tersebut, walaupun jadi lumayan menghemat waktu, tenaga dan motor juga. pak Huis yang kemudian tercecer masuk ke jalur sesat itu, dan baru tiba di finish jam 7 malam (saya dan Kapten tiba di finish jam 2 siang). Pertama finish adalah Kedel, jam 1 siang, kemudian saya dan kapten, jam 2 siang. Didi "Stones", Yanto "Kolonel" dan Lulu sekitar jam 3 an, Patrick dan Ari yang motong dari perempatan, singkat buanget, sekitar jam 3 setelah kelompok Didi. Setelah itu masuk Heri di Anak Buah Kapal jam 5 an. Sisanya tercecer.

Si Iwan Hantu Laut, muncul jam 8 malam, dudukan Shock belakang motornya patah (namanya juga Odong-Odong). Si Ndeso Anus dan Monok, sekitar jam 9 malam, dan terakhir adalah "BOSS" Eko... jam 10 malam.


Hadiah, dari 10 motor serta beberapa accesories maupun doorprize lainnya... ngga ada yang nyangkut. Panitia secara umum baik, tetapi setelah ngobrol dengan rekan panitia yang sudah kenal sebelumnya, ternyata ada kesalahan di lapangan, khususnya di jalur ekstrim tadi. Harusnya katanya, peserta menggunakan jalur alternatif apabila sampai di persimpangan terakhir lewat dari jam 2. Akan tetapi karena ngga ada yang jaga, siapa yang tau.... sesat deh.....
Anggota Kape'U to Mal's...
1. Yanto "Kolonel"
2. Ilo "Patrick"
3. Deddy "Dosen"
4. Didi "Stones"
5. Fajar "Kedel"
6. Ananda "Bolu"
7. Indra "Monok"
8. Ari
9. Anus "Ndeso"
10. Heri
11. Iwan "Hantu Laut"
12. Cahyadi
13. Eko
14. Mulyana
15. Kapten
16. Benny "Huis"
Kru Darat....
1. Hadi "Botak"
2. Denny "Black"