Wednesday, November 28, 2007
Monday, September 24, 2007
KBU... Jakarta Ribut, Bandung Masa Bodo, Kabupaten Bandung tidak peduli
Di saat di Kompas ribut-ribut mengenai kerusakan di KBU (Kawasan Bandung Utara), mungkin orang Bandung sendiri khususnya Pemkot Bandung berpikir.... "GITU SAJA KOQ RIBUT". Seberapa jauh masyakat Bandung peduli dengan kerusakan daerah tempat tinggal mereka sendiri.
Pada saat pindah ke kota Bandung tahun 1985, Bandung masih merupakan "kota kembang". Artinya, udaranya masih nyaman, bahkan, setiap pagi pada saat berjalan kaki ke sekolah melewati kampus ITB, di dalam lingkungan ITB masih berkabut. Udara masih dingin. Tidak lama, pada tahun 1988, kebetulan tempat kuliah terletak di Dago Atas, setiap jadwal kuliah kam 7, mahasiswa yang hadir sebelum jam 7 biasanya menyempatkan diri untuk berjemur, moyan, kata dalam bahasa Sunda, untuk menghangatkan diri.
Akhir tahun 1999, daerah yang dingin di kota Bandung sudah mulai bergeser. Sudah harus lebih tinggi, khususnya di daerah Dago Pakar, Setiabudhi ke arah Lembang. Artinya suhu udara rata-rata sudah mulai meningkat. Kenapa?
Ternyata, sederhana. Ada beberapa sebab yang meningkatkan suhu udara di kota Bandung. Yang pertama adalah meningkatnya kondisi perekonomian yang ditunjukkan dengan meningkatnya pembangunan fisik baik yang digunakan untuk kepentingan perdagangan, umum maupun meningkatnya jumlah perumahan. Akibatnya adalah berkurangnya jumlah lahan tutupan hutan maupun lahan hijau di kota Bandung.
Meningkatnya jumlah penduduk kota Bandung pada akhirnya menggeser posisi perumahan ke wilayah tetangga, yaitu wilayah Kabupaten Bandung, termasuk dengan meningkatnya pembangunan perumahan di kawasan Bandung Selatan dan Bandung Utara.
Peningkatan ini kemudian tidak didukung oleh masalah kedua yaitu pengawasan yang memadai. Kondisi KBU yang sebagian besar berada di kawasan Kabupaten Bandung, dengan ibukota kabupaten adalah Soreang merupakan daerah "merdeka", atau dengan kata lain bebas dari pengawasan. Hal ini disebabkan posisi Kabupaten Bandung yang berada di sekeliling kota Bandung. Posisi ibukota kota Bandung sendiri berada di daerah Selatan Tatar Bandung, dengan kata lain, setiap mau berurusan dengan wilayah KBU, pejabat kabupaten harus melalui kota Bandung untuk mencapai wilayah tersebut, demikian pula sebaliknya.
Pembangunan di Kawasan Bandung Utara (KBU) terjadi dengan pembangunan perumahan yang dilakukan secara besar-besaran diantaranya adalah "The Untouchables" Resort Dago Pakar, Kawasan Bukit Pakar Timur, Setiabudi Regency dan Punclut. Resort Dago Pakar dibangun dengan mengorbankan ratusan ribu pohon serta beberapa desa dan ratusan pemukiman penduduk. Yang sekarang diributkan kemudian adalah Punclut.
Lantas, bagaimana dengan yang lain? Salah satu perumahan di Kawasan Bukit Pakar Timur contohnya, pengembang sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pembatasan bangunan. Akhirnya bangunan yang seharusnya dibangun dengan persentase 30% dari luas tanah malah berkembang menjadi sebaliknya, luas bangunan 70%, sementara halaman hanya 30%.
Kemudian banyaknya lahan yang digunakan untuk perladangan. Pembukaan areal semak belukar menjadi ladang serta pemanfaatan tanah milik menjadi ladang atau kebun juga berpengaruh dalam menciptakan kondisi kerusakan di KBU itu sendiri.
Intinya... besar atau kecil, developer ataupun masyarakat ikut menciptakan kondisi kerusakan di KBU. Pendekatan struktural dan hukum serta pelaksanaan pengawasan harus ditegakkan. Akan tetapi mungkin? Tidak. Sebabnya, ada beberapa teori yang mendukung ketidakmampuan pejabat untuk melakukan penegakan hukum di KBU, diantaranya adalah:
Pertama, pemerintah Kabupaten Bandung tidak memiliki SDM yang memadai untuk melakukan pengawasan terhadap pembangunan di KBU,
Kedua, pemerintah Kabupaten Bandung tidak memiliki skema penataan ruang wilayah khususnya Kawasan Bandung Utara,
Ketiga, "backing" yang berada di Kawasan Resort Dago Pakar, yang diberi discount besar-besaran oleh Pengembang Resort Dago Pakar. Tidak hanya pejabat pemerintah Kabupaten, akan tetapi juga Pejabat Pemerintah Propinsi termasuk Aparat, bahkan beberapa pejabat di Jakarta.
Keempat, hubungan antara Istana Group dengan pemerintah kota Bandung serta dengan pemerintah Propinsi yang menguntungkan pihak pengembangan Setiabudhi Regency.
Punclut... wah, yang pasti sudah berdiri sebuah Internasional School.
Intinya, kalau pun terjadi sebuah kehancuran ekologis pada lingkungan Bandung, hal ini bukan saja disebabkan oleh developer, tetapi juga oleh masyarakat.
Posted by
TRABAS
at
10:18 AM
0
comments
Gas Pol Asshole
Buka puasa bersama.... sama yang puasa dan juga yang tidak puasa. Pokoknya offroad ringan, terus buka. Tempat buka sudah diputuskan di tempat si Hantu Laut... Iwan, pemilik Soerabi Enhaii.
Posted by
TRABAS
at
10:03 AM
0
comments
Wednesday, September 12, 2007
Catatan TRABAS MERDEKA V


perawan serta ladang menjadikan jalur yang disajikan sangat-sangat komplit. Akan tetapi muncul catatan panjang dari sebuah kenikmatan offroad itu sendiri. Apa... Ya itu... banyaknya peserta yang celaka. Kecelakaan dari jatuh dan sobek merupakan sebuah kecelakaan yang biasa, jumlah yang mengalami pun cukup banyak. Kecelakaan yang sifatnya parah ada beberapa kejadian diantaranya adalah dislokasi bahu seperti yang dialami oleh Haji Denny (Bandung) dan Monty (Bali/Australia).
Posted by
TRABAS
at
3:47 PM
0
comments
Thursday, August 2, 2007
Catatan Bhayangkara Brantas Adventure Offroad
Posted by
TRABAS
at
11:32 AM
1 comments
Monday, June 25, 2007
Jatiluhur TRACK and LOUD
Jatiluhur.. ini dia. Belum pernah soalnya... Setelah sibuk urusan kendaraan angkut dan siapa saja yang ikut, akhirnya Kape'U si Hijau Kuning berangkat dengan 12 orang peserta ditambah 3 orang Kru Darat serta menggunakan 4 mobil bak terbuka. Tim berangkat dari Bandung pukul 22.00 dan tiba di Purwakarta sekitar pukul 24.00. Istirahat sambil ngobrol, dibarengi dan panasnya udara Purwakarta. Akhirnya tidur pun susah. Walaupun malam itu hujan, hawa Purwakarta kelihatan tidak terlalu bersahabat dengan orang Bandung, panas.
Jam 5 subuh, kami bangun dan mulai beres-beres. Mandi, menurunkan motor, mengecek motor dan kemudian sekitar pukul 07.30 berangkat ke tempat start di kawasan Objek Wisata Jatiluhur. Setelah sekitar 20 menit perjalanan, rombongan kuning hijau tiba di Jatiluhur, mendaftar dan mengecek ulang motor. Ternyata jumlah peserta tidak terlalu banyak, diperkirakan hanya sekitar 400 peserta (itupun kalau datang dan start semua).
Setelah bersiap di garis start, kami pun start tidak bersamaan. Pada saat bersiap-siap, panitia kemudian memotong persis di tengah-tengah kelompok Kape'U. Akhirnya rencana semula yang ingin tetap berkelompok menjadi terpecah dua.
Perjalanan berlangsung mulus, hingga tanjakan pertama. Macet.... dibarengi dengan panasnya udara Purwakarta serta masih ditambah dengan asap dari knalpot motor 2 TAK. Tanjakan yang licin, yang sebelumnya memiliki jalur untuk satu motor beberapa saat setelah start dipastikan akan menyebabkan kemacetan. Dan benar saja, lumayan tertahan sekitar 20 menit di jalur. Selepas jalur tesebut, relatif perjalanan lancar. Jalur yang licin, ditambah dengan lumpur diselingi dengan tanjakan dan turunan yang masih pada taraf normal hingga pos I dapat dilalui dengan lancar.
Hingga Pos Emergency, sebelum POS I, kelompok Kape'U sudah terpencar menjadi beberapa kelompok. Cahyadi tidak kelihatan, karena ternyata sibuk mengejar-ngejar LEADER. Daru, Anus dan Didi juga mengikuti sedikit di belakang Cahyadi. Kedel mendapat musibah, dari mulai rantai lepas hingga busi yang tertutup solasi. Ilo mejus.... belum sampai Pos I sudah megap-megap, kepanasan. Setelah semuanya kumpul, gas lagi.. Kolonel duluan, diikuti oleh Kedel, Ari, Igor. Aku masih menunggu Ilo dan Eko, maklum ya itu tadi... sudah megap-megap.
Setelah keduanya muncul dan istirahat sejenak, kami pun menyusul teman-teman yang sudah jalan duluan di depan. Setelah melalui jalan desa yang cukup lumayan enak untuk nge "gas" kami pun kembali diharapkan pada trek offroad yang basah dengan tanah lempung. Motor Honda XL Kedel, mogok lagi pada saat memasuki jalan setapak yang digenangi air. Setelah didorong oleh Igor, motor nyala, kami pun mencoba menyusul Eko dan Ilo yang sudah didepan.
Kesusul... pasti.. tidak jauh dari tempat Kedel mogok, jalur menanjak yang berlumpur lengket. Ilo kayaknya salah ngambil jalur, ha..ha..ha Nyungsep. Udah panas, cape, nyungsep... di lumpur.
Igor sudah diatas, Ari sedang berjuang, Eko dan Kedel menunggu sebagai Sweeper. Aku lewat tanpa hambatan, dan ngacir... langsung ke depan. Setelah melalui sungai yang berlumpur yang harus dibantu oleh warga, serta beberapa tanjakan dan turunan yang cukup lumayan, termasuk POS I, aku ketemu dengan Kolonel. Lagi buka baju, kepanasan. Kami pun istirahat di bawah pohon bambu. Busett.. baru sekali ini offroad panasnya seperti ini. Tidak hanya panas, angin pun pelit abis....
Ngga lama, kami pun jalan lagi. Baru beberapa ratus meter berjalan dihadapkan pada lintasan yang lumayan ekstreem, walaupun tidak ekstreem banget, turunan ke sungai. Ternyata Daru, Anus, Didi ada di sungai. Lagi nunggu, dan motornya Didi sempat mogok. Tidak lama, setelah membersihkan tanah lumpur yang tertinggal di swingarm sedikit mencuci muka di air yang hangat...sakin panasnya, kami pun jalan lagi. Tiba di desa Cisarua, istirahat dan minum. Kebetulan ada warung yang cukup lengkap, termasuk ada es batu. Sueger rek...
Tidak lama, Igor, Eko, Kedel dan Ari muncul. Ilo mejus... orangnya, bukan motornya, dan memilih jalur alternatif dari POS I ke finish.
Kami pun melanjutkan perjalanan sambil foto-foto menjelang POS II, di bawah bendungan Jatiluhur. Setalah makan di POS II, kami pun jalan menuju finish. Jalur sudah tidak ada masalah, besar lumayan buat buka gas abis-abisan.
Secara umum, perjalanan menyenangkan. Disisi lain, door prize ada yang nyangkut, walaupun cuma Daru yang mendapat helm, Ari dapat ban depan Excella dan Didi dapat ban dalam. Lumayan.
Jalur Oke punya, panitia, penunjuk jalan dan semuanya OKE... yang tidak Oke cuma hawa panasnya. Selain itu, pada saat pembagian Doorprize juga ada sedikit keramaian. Sebenarnya munculnya dari para BONTY HUNTER, yang ikut Offroad mengejar hadiah... Mungkin ini yang harus dirubah.. offroad ya offroad, jangan sekedar mencari hadiah...
Posted by
TRABAS
at
12:01 PM
1 comments
Monday, April 9, 2007
Mal's Linud 330 Adventure Offroad
Posted by
TRABAS
at
10:57 AM
4
comments

